Rumah Mewah dan Hemat Listrik

Kamis, 18 Maret 2010

Hemat Listrik 30% dan Air Hingga 50% Dengan GREEN DESIGN

Konsep green design sebenarnya sudah lama dikenal. Di negara maju, upaya menciptakan karya arsitektur ramah lingkungan sudah dimulai sejak pertengahan abad 20. Konsep ini lahir berkat kesadaran para perancang profesional yang terkait dengan bidang pembangunan, seperti arsitek, perancang interior dan perancang lansekap terhadap pentingnya kelestarian lingkungan terutama pada perumahan. Inti dari green design adalah dimasukkannya lingkungan sebagai bagian penting pada perencanaan karya arsitektur.

Rumah yang tidak dirancang harmonis dengan alam bukan saja membuat penghuninya tidak nyaman, tapi juga boros biaya. Benarkah ?
Membayangkan hunian kita dilengkapi oleh AC sebagai pendingin ruangan disaat angin sungguh tak melegakan keluar masuk ruangan, dan lampu-lampu sebagai penerang disaat siang hari tak juga menjamin sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah, adalah bagian kecil dari tak harmonisnya desain rancang bangun rumah dengan lingkungan. Meski demikian, masih saja masyarakat kita secara sadar melakukan cara-cara ‘klasik’ moderen ini sebagai solusi praktis. Padahal alam akan mendatangkan manfaat cukup besar jika rancang bangun hunian berorientasikan pada green architecture (arsitektur hijau) yang lebih tanggap pada isu-isu lingkungan.

Lewat konsep green design inilah, perancang tampaknya mencoba berdamai dengan alam. Jadi, kalau akan membuat rumah, bukan hanya fokus pada rumahnya saja, tapi juga lingkungan sekitar rumah. Ada beberapa prinsip dasar green design, yaitu pertama hemat energi. Suatu bangunan haruslah dirancang untuk bisa bersahabat dengan sumber energi, yakni cahaya matahari. Karena itu, penting dipertimbangkan sistem sirkulasi udara maupun pencahayaan. Salah satu langkah konkretnya, misalnya dengan membuat banyak bukaan pada rumah. Bisa dengan memasang jendela dan pintu berukuran besar, menggunakan atap atau genteng yang tembus cahaya, dan ventilasi. Kedua hemat air. Contoh langkah penghematan air misalnya menggunakan shower di kamar mandi. Selain itu, bisa juga dibuat bak penampungan air hujan di mana airnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Adanya ruang terbuka hijau bisa dikatakan menjadi syarat mutlak konsep green design. Sebuah rumah atau bangunan haruslah mempunyai lahan terbuka hijau yang ditumbuhi aneka tumbuhan sebagai penyuplai oksigen. Tumbuhan juga bisa berfungsi sebagai penyerap air, membuat udara menjadi lebih sejuk, dan membuat rumah menjadi indah dipandang. Yang tak kalah penting adalah pengelolaan limbah rumah tangga. Limbah bangunan dan rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar pencemaran tanah dan air. Karena itu perlu direncanakan proses konstruksi dan operasional bangunan dengan sangat hati-hati agar limbahnya bisa ditangani dengan proses yang ramah lingkungan. Ini bisa dilakukan dengan merancang sistem pembuangan yang terencana. Membiasakan diri untuk tidak terlalu banyak menghasilkan sampah plastik, deterjen, dan menyediakan tempat sampah dengan jumlah memadai di lingkungan rumah. Dan sebaiknya, pembuangan sampah organik dan non organik pun dilakukan terpisah dan khusus, tidak asal dibuang ke saluran pembuangan.

Jogja Green Design
Masyarakat Yogyakarta, dengan kekhasan budaya, sosio culture, aktifitas ekonomi, dari masa ke masa telah melakoni aktifitas arsitektural yang cukup sejalan dengan prinsip-prinsip pembangunan kawasan Yogyakarta yang ramah lingkungan. Menurut pendapat Agus Handoko yang mengibarkan bendera MAA Arsitektur, diantara masyarakat Yogyakarta sendiri masih ada sebagian yang belum sepenuhnya memahami dan melaksanakan aktifitas-aktifitas arsiteknya dengan mengacu kepada prinsip-prinsip kearifan dan kelestarian lingkungan.
Perancangan ramah lingkungan atau dikenal sebagai green design merupakan sebuah spirit atau roh, yang menjadi semangat, energi, emosi dari siapapun yang sedang melaksanakan aktifitas pembangunan. Telaah mengenai green design, bukan pula merupakan sesuatu yang trend – trendy – gaya sebuah bangunan/model. Dalam mendesain, ada kebebasan mengekspresikan seluruh komponen-komponen desain yang ada, tetapi melewati tahapan-tahapan yang sudah dikategorikan oleh perancangan green, sehingga pada gilirannya jika itu sudah teradaptasi, terkolaborasi, terkonsolidasi, muncullah sebuah desain yang tidak uzur secara gaya/model.

Menjual Lingkungan
Kata sepakat bahwa bisnis orientasi inilah yang sebenarnya menjadi tema-tema penting bagi para developer di Yogyakarta saat ini, meski sudah ada sebagian yang memulai untuk tidak saja mengedepankan aspek-aspek bisnis semata, tetapi mulai mensejajarkan antara aspek lingkungan yang memang harus memberikan kontribusi positif pada kawasan yang mereka develop. Maka aspek-aspek positif ini yang diberdayakan dengan cara membuat komposisi antara fasum, lansekap, open space dengan berimbang. Ini menjadi sebuah kebutuhan berbudaya. Tidak hanya menjadi kiat-kiat praktis, tetapi peran-peran penting dari pihak terkait, pemerintah daerah setempat, misalnya, yang justru bisa memberi koridor-koridor penting yang akan menjadi pola-pola yang dilalui para developer.
Proyek percontohan kawasan atau perumahan dengan konsep green design yang berjalan sebagai eksperimen, adalah salah satu cara yang bisa diperkenalkan kepada masyarakat yang cenderung mudah mengadopsi sebuah produk perumahan. Bahwa aspek lingkungan juga memegang peran penting dalam tingkat kelarisan produk perumahan. Hal ini sudah dimulai di kota-kota kecil yang lain, bukan hanya Jakarta, Bandung; kota Malang, misalnya, lingkungan diperlakukan secara maksimal oleh developer. Harapan dari proyek ini adalah tumbuhnya respon market terhadap produk gaya perumahan itu sehingga berkembang, dan tidak melulu dipaksa hanya mengutamakan aspek bisnis semata.
Memang, semua kembali pada pasar. Karena ini masalah selera. Secara naluriah masyarakat mudah sekali diajak menyukai sesuatu yang asri. Jika pasar sudah memilih produk tertentu, produsen manapun akan mengikuti. Developer dengan observasi khusus, dengan telaah statistik marketing mereka, akan berani mengarah pada satu produk tertentu yang lebih mendekati selera itu. Misalnya, membuat kawasan perumahan yang tidak banyak, tetapi dibuat dengan komposisi taman dan model bangunan yang menyerupai betul apa yang dimaksud dengan green design. Lalu dilihat responnya bagaimana, harga, dan lain-lain.


Bangunan Ramah Lingkungan Syaratkan Efisiensi.
Konsep bangunan ramah lingkungan (green building) didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro. Poin terbesar dalam konsep ini adalah penghematan air dan energi serta penggunaan energi terbarukan. Di Indonesia akses energi terbarukan masih lemah. Suplai energi listrik untuk properti hanya mengandalkan PT. PLN yang belum menggunakan sumber energi terbarukan.
Di banyak negara, penerapan konsep green building terbukti menambah nilai jual. Namun, di Indonesia masih butuh proses edukasi panjang. Hingga saat ini kebanyakan pelaku bisnis properti di Indonesia masih enggan mengadopsi sistem tersebut karena dianggap mahal, sulit, dan tidak layak secara bisnis. Kendati biaya konstruksi awal bertambah sekitar 2 persen dari bangunan konvensional, namun return yang diperoleh properti itu dalam jangka waktu 20 tahun bisa mencapai sepuluh kali lipat atau sekitar 20 persen dari tambahan biaya yang dikeluarkan. Pengembalian ini, diperoleh berkat biaya operasional yang dapat ditekan antara lain dengan penghematan biaya listrik 30 persen dan air hingga 50 persen.
Selain itu, implementasi konsep ini juga menunjukkan tindakan moral pelaku properti yang peduli terhadap isu pemanasan global, dimana mereka tidak hanya memikirkan keuntungan semata, namun juga prihatin terhadap masalah global.

Setiap Kota Beda
Dengan rancangan yang baik dan peduli pada lingkungan, diharapkan menjadi sebuah kekuatan untuk menghasilkan nol polusi (the power of zero to reducing pollution). Saat ini para praktisi dan arsitek di seluruh dunia menjadikan green building sebagai wacana utama dalam menghadirkan lingkungan yang asri dan ramah lingkungan. Bangunan yang ramah lingkungan adalah bangunan yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Rancang bangun dan bahan bangunannya dibuat dengan konsep yang ramah lingkungan, di dalam ruangan dan lingkungan sekitarnya terdapat penghijauan. Penerapan green building akan menciptakan satu lingkungan yang hijau dan ramah lingkungan (green city).
Ada lima langkah (route) menuju green city. Yaitu, penggunaan lahan dan bentuk kota (compact development), lingkungan hunian dan kehidupan di dalamnya (high density living), mobilitas dan transportasi (transportation oriented), keseimbangan ekologi di perkotaan (ecology in the city), dan arsitektur bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi (eco-friendly architecture).
Konsep green city tidak hanya tentang pengelompokan bangunan dengan energi yang efisien, namun tata ruang bangunannya yang membentuk dan menggaris kota juga harus membentuk visi yang sama. Konsep green building bisa diterapkan untuk negara tertentu dan tidak cocok untuk negara lain. Mungkin di Singapura bagus, tapi belum tentu konsep serupa bisa diterapkan di negara lain yang musimnya berbeda. Penerapan di beberapa kota di Indonesia, pun tak selamanya sama. Artinya, kekhasan dan karakteristik kota atau wilayah menjadi poin yang tidak bisa di nomor sekiankan. Mengedepankan kondisi lokal secara fisik dan sosial, serta keterkaitan dengan ekologi lokal.

Semua Pihak Punya Peran
Konsep dan strategi green building tidak bisa hanya dilakukan oleh pengembang atau arsitek, tetapi semua pihak, termasuk pemerintah. Jika hanya arsitek dan pengembang saja yang berupaya menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, hasilnya tidak akan maksimal bila lingkungan sekitarnya tetap tidak peduli.
Masyarakat sebagai penentu pasar, harus punya keberanian memilih perancangan mana yang layak diterapkan di hunian mereka, tidak hanya mengikuti keinginan-keinginan yang sifatnya trendy saja, tetapi makin berani melihat apa yang ada di ekosistem. Biarpun kecil, biarpun besar, biarpun hunian itu berada di tengah perumahan yang jalannya sempit, biarpun berada di tengah kota, biarpun berada di desa, biarpun berada di lereng-lereng persawahan, tetapi tidak ada yang lebih penting selain berani menjaga lingkungannya. Keberanian untuk memutuskan berprinsip “green”. ■


Naskah : Via Christy
RumahJogja

0 komentar:

Visi

Jika kita sedang berlibur ke Luar Negeri, tidak sedikit yang kita jumpai warga Indonesia yang juga sedang berlibur bahkan mereka tinggal disana. Blog ini mempunya satu tekad untuk me-“melek”-kan mata warga Negara ini bahwa di Negara ini juga ada tempat tinggal yang sudah bisa dikatakan lebih dari layak untuk dijadikan hunian. Bahkan tidak perlu mengeluarkan modal yang cukup mahal.

Misi

>Memperbanyak bangunan yang layak untuk dihuni.

>Semakin mempercepat program pembangunan di Negara ini.

>Memperbanyak iklan tentang bangunan mewah, misalnya dengan blog ini.


ANALISIS SWOT

Kekuatan

>Bangunan mewah yang sudah layak untuk dihuni tetapi harganya sangta terjangkau.

>Semua Produk yang ada mudah untuk ditemukan.

>Produk yang ditawarkan berani bersaing dengan Produk-Produk luar negeri.

Kelmahan

>Kecelakaan yang tidak diduga-duga dan sangat tidak diinginkan tentunya.

Peluang

>Dengan harga yang cukup terjangkau, membuat kita tidak perlu berfikir dua kali untuk menjadi konsumen produk ini.

>Gengsi rakyat Negara yang tinggi dan suka dengan yang berbau kemewahan, produk ini merupakan salah satu produk yang tepat.

Ancaman

> Mungkin karena banyaknya pengusaha yang mempunyai prinsip sama, yaitu memajukan pembangunan di Negara ini, maka itu merupakan suatu hambatan yang tidak bisa disepelekan.

PASAR YANG DIBIDIK

Untuk warga menengah cukup untuk menghuni rumah-rumah kami.

STRATEGI PEMASARAN

Kami menggunakan strategi yang sederhana, yaitu dengan memberikan pelayanan yang memuaskan dan Produk yang bersaing.

PASAR YANG DIBIDIK

Untuk warga menengah cukup untuk menghuni rumah-rumah kami.

STRATEGI PEMASARAN

Kami menggunakan strategi yang sederhana, yaitu dengan memberikan pelayanan yang memuaskan dan Produk yang bersaing.